Entri Populer

Senin, 01 Februari 2016

Manajemen Dakwah Pada Masa Pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi (Proposal)



BAB II
Kajian TeoritiK

A.      Pengertian Manajemen Dakwah
Jika dilihat dari segi bahasa, pengertian manajemen dakwah memiliki dua istilah, yang pertama manajemen dan yang kedua, dakwah. Manajemen secara etimologis berasal dari to manage yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.[1]
Sedangkan secara epitomologis menurut George R. Terry manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. [2]
Sedangkan dakwah secara etimologi, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu: da’a-yad’uw-da’watan. Kata tersebut  berarti menyeru,  memanggil, mengajak dan menjemput. Selain itu, dakwah juga bermakna memotivasi dan membimbing.[3]
Pengertian dakwah secara istilah menurut Ibn Taymiyah adalah mengajak untuk beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa yang mereka sampaikan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.  Sedangkan menurut Syekh Ali Mahfudz adalah mendorong (memotivasi) manusia untuk melakukan kebajikan, mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan  munkar, agar mereka memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[4]
Rosyad Saleh mengartikan manajemen dakwah sebagai suatu proses perencanaan tugas, mengelompokkan tugas, menghimpun dan menempatkan tenaga-tenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas dan kemudian menggerakkan ke arah pencapaian tujuan dakwah. Inilah yang merupakan inti dari manajemen dakwah, yaitu sebuah pengaturan secara sistematis dan koordinatif dalam kegiatan atau aktivitas dakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan sampai akhir dari kegiatan dakwah.[5]
Jika aktivitas dakwah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen, maka “citra profesional”  dalam dakwah akan terwujud pada kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak dipandang dalam objek ubudiyah saja, akan tetapi diinterpretasikan dalam berbagai profesi. Inilah yang dijadikan inti dari pengaturan secara manajerial organisasi dakwah, sedangkan efektivitas dan efesiensi dalam penyelenggaraan dakwah adalah suatu hal yang  harus mendapatkan prioritas.
Aktivitas dakwah dikatakan berjalan secara efektif jika apa yang menjadi tujuan benar-benar dapat dicapai, dan dalam pencapaiannya dikeluarkan pengorbanan-pengorbanan yang wajar. Atau lebih tepatnya, jika kegiatan lembaga dakwah yang dilaksanakan menurut prinsip-prinsip  manajemen akan menjamin tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan dan akan menumbuhkan sebuah citra (image) profesionalisme di kalangan masyarakat. Khusus dari pengguna jasa dari profesi da’i. [6]

B.   Fungsi-Fungsi Manajemen Dakwah
1.    Aspek Perencanaan Dakwah
Perencanaan dakwah (takhtith) merupakan pangkal tolak dari suatu aktivitas manajerial, oleh karena itu perencanaan memiliki peran yang sangat urgen dalam suatu organisasi, sebab ia merupakan dasar dan titik tolak dari aktivitas selanjutnya. Oleh sebab itu, agar proses dakwah dapat memperoleh hasil yang maksimal, maka perencanaan itu merupakan sebuah keharusan. Setipa sesuatu itu membutuhkan rencana, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya[7]:
“jika anda ingin mngerjakan suatu pekerjaan, maka pikirkanlah akibatnya, maka jika pekerjaan tersebut baik ambillah, dan jika pekerjaan itu buruk, maka tinggalkanlah” (HR Ibnu Al-Mubarak).
2.    Aspek Pengorganisasian Dakwah
Pengorganisasian dakwah atau al-tanzim dalam pandangan Islam bukan semata-mata merupakan wadah, akan tetapi lebih menekankan bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara rapi, tertatur dan sistematis, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Allah sangat menyukai jika seseorang melakukan perbuatan terutama dilakukan dengan itqam (kesungguhan dan keseriusan)” (HR Thabrani).[8]
Hadis Nabi Muhammad SAW dapat dijadikan sandaran dalam sebuah pengorganisasian, yaitu:
“dua orang itu lebih baik daripada satu, tiga orang lebih baik dari dua orang dan empat orang itu lebih baik dari dua orang, maka berjamaahlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umat kami kepadanya ada petunjuk” (HR Bukhari).

Tujuan dari pengorganisasian dakwah adalah:
a.       Membagi kegiatan-kegiatan dakwah menjadi departemen-departemen atau divisi-divisi dan tugas-tugas yang terperinci dan spesifik
b.      Membagi kegiatan dakwah serta tanggung jawab yang berkaitan dengan masing-masing jabatan atau tugas dakwah
c.       Mengoordinasikan berbagai tugas organisasi dakwah
d.      Mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan dakwah ke dalam unit-unit
e.       Membangun hubungan di kalangan da’i, baik secara individual, kelompok dan departemen
f.       Menetapkan garis-garis wewenang formal
g.      Mengalokasikan dan memberikan sumber daya organisasi dakwah
h.      Dapat menyalurkan kegiatan-kegiatan dakwah secara logis dan sistematis.[9]
3.    Aspek Penggerakan Dakwah
Aspek penggerakkan dalam dakwah merupakan hal yang harus diperhatikan oleh pelaku dakwah dalam menyampaikan dan merealisasikan kegiatan-kegiatan dakwah yang telah direncanakan.[10]
4.    Aspek Pengendalian Dakwah dan Evaluasi Dakwah
Penggunaan prosedur pengendalian dapat dimaksudkan sebagai sebuah kegiatan mengukur penyimpangan dari prestasi yang direncanakan da menggerakkan tindakan korektif. Pada era sekarang ini pengendalian operasional dakwah dilakukan terintegrasi dari suatu organisasi dakwah sudah menjadi suatu kebutuhan, dan dalam pengendalian ini selalu disertakan unsur perbaikan yang berlangsung secara berkesinambungan.[11]
Setelah dilakukan pengendalian semua aktivitas  dakwah, maka aspek penting lainnya  yang perlu dilakukan adalah evaluasi. Evaluasi dakwah adalah melakukan penilaian terhadap kegiatan dakwah yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman manajerial dakwah dalam sebuah program formal yang mendorong manajer atau pemimpin lembaga dakwah untuk mengamati perilaku anggotanya, melalui pengamatan yang lebih mendalam. Evaluasi dakwah juga penting untuk mengetahui berhasil dan tidaknya kegiatan dakwah yang telah dilaksanakan, sehingga terukur tingkat keberhasilan atau kegagalan dakwah tersebut, yang pada tahap  selanjutnya akan memudahkan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. [12]

C.       Gerakan Dakwah Islam Pada Masa Pemerintahan Shalahuddin Al-Ayubi
1.      Pembangunan Madrasah-Madrasah Sunni
Shalahuddin Al-Ayyubi berambisi agar akidah Ahlus Sunnah mempunyai pengaruh pada berbagai lembaga pemikiran dan pendidikan yang dibangunnya. Oleh karena itu, pada tahun 572 H (1176 M) ia memerintahkan pembangunan dua madrasah: pertama, madrasah untuk pengikut madzhab Syafi’i; kedua, madrasah untuk para penganut madzhab Hanafi.  Sesudah itu berturut-turut dibangun pula berbagai madrasah Sunni di beberapa tempat di Kairo, serta wilayah-wilayah lain yang diprakarsai oleh para pejabat Ayyubiyyun dan para pembantu mereka.[13]


2.      Memerangi Gerakan Syiah di Mesir, Syam, dan Yaman
      Butuh waktu yang bertahun-tahun untuk membasmi suatu aliran yang telah eksis di suatu negeri, tetapi juga harus membutuhkan tindakan nyata yang tidak hanya bersifat keras atau repressif saja. Karena itulah, Shalahuddin menggunakan beragam cara dan metode untuk mengakhiri propaganda Ubaidiyah di Mesir. Sebagian menggunakan kekerasan, dan sebagian menggunakan kekuatan militer, namun dalam waktu bersamaan juga ditempuh jalur dakwah, pendidikan, pembinaan dan menarik simpati masyarakat melalui yayasan-yayasan sosial dan berbagai kegiatan keagamaan dengan memanfaatkan harta wakaf untuk pendanaannya.[14]
                    Qadhi Al-Fadhil mempunyai peranan menonjol dalam perencanaan strategis ini. Yaitu melengserkan Dinasti Ubaidiyah, yang diantara faktor-faktor terpentingnya ialah: menjatuhkan citra Khalifah Al-Fathimi Al-Adhid; menurunkannya dari kedudukan dan singgasana Istana Dinasti Ubaidiyah; menghentikan pelaksanaan Shalat Jum’at di Masjid Jami’ Al-Azhar; penghapusan pelajaran seputar akidah Syiah Rafidhah; penghancuran dan pembakaran buku-buku Syiah Ismailiyah; peniadaan berbagai perayaan sekte sesat Syiah; penghapusan simbol-simbol Dinasti Ubaidiyah dan mata uang mereka; pengawasan terhadap individu-individu anggota keluarga Dinasti Fathimi; pelemahan kekuasaan ibukota Dinasti Ubaidiyah; membongkar kepalsuan nasab Dinasti Ubaidiyah yang disandarkan kepada Ahlul Bait Nabi; dan pengejaran terus-menerus terhadap sisa-sisa pengikut Syiah di Syam dan Yaman.[15]
                    Dinasti Ayyubiyah berupaya sekuat tenaga meredam setiap upaya keluarga Dinasti Ubaidiyah untuk mengembalikan Mesir ke madzhab Syiah Ismailiyah. Orang-orang Ayyubiyun terus membela akidah Sunni dan memusnahkan warisan Syiah Rafidhah, mereka terus mengejar pengikut sekte ini hingga ke Syam dan Yaman. Pada akhirnya mereka pun mampu menghentikan gerakan Syaih Ismailiyah di Mesir, Syam, dan Yaman; lalu menyebarkan dakwah Sunni di Iran dan Syam. [16]     

D.       Perang Salib Dan Peran Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tanggal 25 November 1095, di Konsili Clermont, Paus Urban II menyerukan perang salib pertama. Berkhotbah di hadapan kerumunan para pendeta, ksatria, dan orang-orang miskin, Paus Urban menyerukan perang suci melawan Islam.  Para ksatria Kristen Eropa pun menyerbu Asia Kecil dan membersihkan negeri-negeri itu darinajis-najis kaum muslim, mereka akan memikul tugas yang lebih suci lagi. Mereka akan berbaris menuju Yerussalem dan membebaskan kota suci itu dari tangan para kafir. Sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum muslim.
                              Sambutan terhadap seruan Paus Urban itu sungguh luar biasa. Para pengkhotbah populer seperti Peter si Petapa menyebarkan kabar tentang Perang Salib. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri atas 60.000 tentara. Gelombang pertama itu disusul pada musim gugur oleh lima pasukan lagi yang terdiri dari kira-kira 100.000 laki-laki dan segerombolan pendeta dan penziarah.[17]
                              Bagi orang-orang Byzantium yang berpengetahuan luas, gelombang manusia tampak sama dengan invasi besar-besaran kaum barbar, serupa dengan serbuan yang telah menghancurkan Kekasaisaran Romawi di Eropa. Barat mulai menginvasi Timur pada abad modern. Invasi ini dipenuhi oleh perasaan-benar-sendiri yang agresif dari sebuah perang suci, sebuah perasaan yang akan menjadi ciri Barat di masa sesudahnya dalam berurusan dengan Timur. Perang Salib ini merupakan tindakan kerja sama pertama dari Eropa Barat saat Benua itu sedang merangkak keluar dari Abad Kegelapan.  Mereka  menjahitkan tanda salib di baju mereka dan berbaris ke tanah tempat Yesus wafat untuk menyelamatkan dunia.[18]
                              Pada tahun 1096, Paus Urban II menasehati para Ksatria untuk menunggu usai panen tahun 1096, sehingga para tentara dapat membawa perbekalam secara layak. Tapi, ribuan Tentara Salib terlalu tidak sabar. Para pengkhotbah populer menyebarkan kabar tentang Perang Salib, membawa berbagai motivasi di luar cita-cita gerakan Reformasi Cluny dan bersifat populer ke permukaan. Ribuan orang awam lelaki maupun perempuan , bersukarela ikut serta dalam barisan tentara. Peter Sang Pertapa berkelana ke seluruh Perancis, memikat para pengikut dari semua kelas masyarakat. Dimana pun ia berkhotbah, para pendengarnya akan terpesona dan menangis. [19]
                              Di Jerman, dua pendeta, Folkmar dan Gottschalk, juga membangkitkan antusiasme serupa. Di Jerman pula, Pengeran Emich dari Leiningen, seorang baron perampok dengan reputasi amat kejam, mengaku bahwa ia adalah Kaisar Terakhir dari mitos apokaliptik, dan mulai mengumpukan tentara yang akan bergabung dengan Tentara Salib lain dari Inggris dan Flanders.[20]
                              Pada bulan Maret, Peter Sang Pertapa bergerak ke Timur memimpin rombongan yang terdiri dari kira-kira 10.000 bangsawan, ksatria, dan prajurit pejalan kaki, yang diiringi sejumlah besar peziarah. Pada waktu yang sama, Walter Sansavior dari Poissy, seorang bangsawan Perancis, memimpin pasukan yang kira-kira sama besarnya, yang seluruhnya terdiri dari tentara pejalan kaki. Tak lama kemudian, Emich berangkat dengan tentaranya yang amat besar, berjumlah 20.000 orang. Dua tentara lain yang dipimpin oleh Folkmar dan Gottschalk memulai perjalanan mereka ke Eropa Timur menuju Konstantinopel.  Lima rombongan tentara lagi bersiap-siap di rumah. Pasukan Walter Sansavior yang dengan mengagumkan amat berdisiplin berbaris langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstantinopel pada akhir bulan Juli. Pertempuran pun tak terhindarkan.[21]
                              Pada akhir bulan Juni, tentara Folkmar dihancurkan di Nitra, Hungaria, oleh tentara Hungaria yang marah. Tak lama kemudian tentara Gottschalk juga dipaksa menyerah kepada tentara Hungaria di Pannonhalma. Orang Hungaria begitu marah oleh Tentara Salib sehingga tidak mengizinkan tentara Emich memasuki negara mereka. Tentara Salib Emich mencoba memaksa masuk dan mereka mengepung kota Weisenburg selama enam pekan. Tetapi mereka tidak dapat maju lebih jauh dan akhirnya terpaksa membubarkan diri dan pulang dalam kehinaan.[22]
                              Tentara Peter Sang Pertapa lebih berhasil tetapi menderita korban amat besar dalam perjalanan,. Di Nish, Byzantium, pertempuran pecah di pasar, ketika Tentara Salib mencoba untuk membeli makanan. Pasukan Peter diserang hebat di pasar tersebut, tetapi para prajurit yang tersisa berhasil mencapai Konstantinopel pada awal bulan Agustus.sesudah itu, di bulan Agustus juga, nyaris semua pasukan Peter dan Walter dibantai oleh tentara Turki.[23]
                              Para Tentara Salib memang memasuki kota malam itu, berteriak keras Tuhan menghendaki ini. Mereka mengusir orang-orang Turki dari pertahanan mereka dan menjarah serta merebut kota itu. Para Tentara Salib yang kelaparan bahkan menyerbu rumah-rumah orang Kristen seperti mereka menyerbu rumah-rumah kaum muslim. Jalanan dipenuhi oleh mayat-mayat. Meski banyak rintangan, kamu Salib berhasil membebaskan kota-Kristen yang dihormati tersebut. [24]
                              Tapi kemenangan mereka tidak berlangsung lama. Pada tanggal 4 Juni, tentara-Kerbuqa yang berperalatan amat lengkap tiba di luar benteng kota dan mulai mengepung Antiokhia. Pada tanggal 10 Juni, para Tentara Salib mulai banyak yang membelot dan melarikan diri dari kota, sehingga para penjaga harus mengawasi gerbang kota untuk menghentikan kepergian mereka.[25]
                              Peter  dan dua belas Tentara Salib dari tentara Raymund mulai menggali untuk menemukan tombak suci itu di tempat yang telah ditunjuk St. Andrew. Mereka menggali sepanjang hari. Dan tiba-tiba, Peter melompat ke dalam galian lubang dan dengan penuh rasa kemenangan membawa sepotong besi yang dianggap dulunya pernah menjadi sebilah tombak. Gerombolan yang ketakutan pada empat malam sebelumnya berubah menjadi tentara-Kristen yang siap menyerang musuh dan yakin akan kemenangan mereka. [26]
                              Pada tanggal 28 Juni, Tentara Salib keluar dari kota dan didampingi oleh tombak dan sekelompok pendeta yang berdoa dengan keras. Mereka menyerbu kaum muslim dengan rasa percaya diri yang begitu besar. Ketika Tentara Salibbenar-benar melihat tentara kaum muslim tercerai-berai dan kabur di hadapan mereka, mereka tenggelam dalam keadaan suka-cita yang meluap sehingga mereka tidak terkejut lagi.[27]
                              Penyakit tipus merebak dan pada tanggal 1 Agustus, Adhemar pun meninggal. Kematiannya menjelma kehilangan besar dan membuat seluruh tentara tertekan. Namun, pada akhir bulan November, Tentara Salib mengepung Ma’arret di Suriah dan pada tanggal 12 Desember kota itu berhasil ditaklukkan.[28]
                              Kematian Peter mengakhiri riwayat tombak suci penemuan peter itu, namun sisa-sisa para Tentara Salib masih percaya terus memuja tombak tersebut. Pada tanggal 13 Mei, pengepungan kota Arqa dihentikan dan Tentara Salib memulai perjalanan mereka mennuju Yerussalem. Pada tanggal 23 Mei, mereka melintasi Tirus, tempat yang pernah dikunjungi Yesus. Tentara Salib itu sungguh-sungguh merasa bahwa mereka berdiri di atas tanah suci.
Pada tanggal 7 Juni 1099, Tentara Salib tiba di benteng kota Yerussalem. Pada tanggal 15 Juli 1099, Tentara Salib mendesak masuk ke kota dan menaklukkannya. Selama dua hari mereka menyerang para penduduk Muslim dan Yahudi di Yerussalem. Sehari setelah pembantaian itu, Tentara Salib memanjat atap al-Aqsha dan dengan darah dingin membunuh sekelompok Muslim yang sebelumnya telah dijanjikan Tancred akan mendapat perlindungan.[29]

Setelah kaum Salib menguasai Haifa, mereka bergerak menuju Qaisariyah. Pada 17 sya’ban, kaum salib mendekati kota, dua pasukan telah bertemu dan terjadi pertempuran disana. Pertempuran sengit berkobar setiap harinya. Shalahuddin ingin menarik kaum salib ke daratan, agar mereka kehilangan suplai logistik dari laut. Namun, Richard tidak terjebak dengan strategi itu.
Setelah sampai di Qaisariyah, ternyata kota itu sudah rata dengan tanah. Pasukan Richard melanjutkan ke Arsuf, lalu bergerak menuju hutan. Shalahuddin memutuskan untuk mendahului musuh masuk ke hutan dan bertempur disana, lalu ia mempersiapkan pasukannya untuk menghalang musuh. Richard memahami strategi Shalahuddin, lalu dia berusaha meminta bantuan pasukan dari Akka dan membuka pintu perundingan dengan Shalahuddin. Shalahuddin mengutus Malik Al-‘Adhil untuk bertemu dengan Richard pada 12 Sya’ban. Tapi perundingan menjadi sulit karena Richard bersikeras menuntut kaum Muslimin menyerahkan beberapa wilayah kerajaan Baitul Maqdis ke tangan dia. Malik Al-‘Adhil segera menghentikan perundingan. Tidak ada jalan bagi kedua belah pihak, selain peperangan.[30]
Peperangan Arsuf ini dimulai saat dhuha, pada hari Sabtu 14 Sya’ban 587 H (7 September 1191 M). Para ksatria Islam awalnya berhasil mendesak pasukan salibis, tetapi Richard bertahan dan mampu menyusun kekuatan kembali. Lama-lama pasukan Muslimin semakin terdesak. Saat situasi genting itu, Shalahuddin berteriak keras kepada para pejuang Islam agar mereka bertekad berjihad sampai mati di jalan Allah. Sultan tetap bertahan di medan perang dengan gagah berani; hal ini memotivasi semangat para pejuang kstaria Islam tersebut. Mereka pun berperang mati-matian, hingga berhasil memukul mundur pasukan salib dan mereka terpaksa surut ke belakang.[31]
Setelah perang Arsuf, Richard bergerak ke Yafa dan menguasainya, karena disana tidak ada seorang pejuang Islam pun yang mempertahankannya. Disana Richard kembali membangun benteng-benteng. Shalahuddin sendiri bergerak ke Ramalah. Disana ia mengadakan musyawarah militer. Amir Ilmuddin Sulaiman bin Jandar mengusulkan, agar Sultan mengosongkan Kota Asqalan lalu menghancurkannya. Shalahuddin menolak, tetapi karena Para pejabat menyetujui, maka dengan sangat terpaksa memenuhi keputusan para pejabatnya. Ia setuju meruntuhkan kota. Kota pun mulai dirobohkan pada pagi 19 Sya’ban 587 H.[32]
Sifat welas asih Saladin menjadi sesuatu yang lekat dengannya, bahkan kepada musuhnya, yakni kaum Frank. Saladin selalu terharu dengan dan menangis jika melihat penderitaan orang lain. Dalam sebuah kesempatan, ia menangis tersedu-sedu ketika seorang perempuan dari kaum Frank datang kepadanya dalam keadaan tertekan berat karena putrinya telah diculik oleh prajurit Muslim dalam sebuah penyerbuan. Perempuan itu berkata bahwa ia mendengar kebaikan yang termasyhur dari Raja Kaum Muslim dan Saladin dengan segera menitahkan untuk mencari anak si perempuan itu, yang kemudian segera dikembalikan pada ibunya.[33]
Tapi pengabdiannya kepada perang suci yang menjadi langkah pembelaan diri melawan kaum Frank itulah yang meyakini rakyat lebiih dari apapun bahwa Saladin memang penerus yang paling layak dari Nuruddin yang Agung. Saladin membuat propaganda yang sukses, yang menampilkan jihad sebagai hal yang bermakna penting bagi integritas seorang muslim, dengan seluruh semangat dari Nuruddin. Ia melancarkan kampanye pendidikan di dalam pasukannya: untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, hadis dibacakan kepada para pasukan ketika mereka sedang bersiap untuk bertempur, dan lebih banyak lagi pembacaan serta diskusi ayat-ayat suci dilaksanakan saat pasukan sedang menunggangi sadel dan maju bergerak ke arah musuh.[34]
Kota Damaskus membuka gerbangnya secara sukarela setelah kematian Nuruddin, dan Saladin melanjutkannya dengan menaklukkan kota-kota Homs dan Hama di Suriah. Perjuangan panjang masih harus ia hadapi melawan Aleppo dan Mosul, yang tetap setia pada Ash-Shalih. Ketika Ash-Shalih wafat pada tahun 1181, Saladin memasuki Aleppo dengan penuh kemenangan sebagai pemimpinnya.[35]

E.       Kontak Peradaban Islam Dan Kristen Pada Masa Perang Salib
Terjadi pembauran antara Umat Islam dengan Umat Kristiani ketika perang salib berlangsung, diantaranya yaitu:
1.      Kaum Kristiani menyalin banyak ilmu pengetahuan dari kaum Muslimin yang memiliki peradaban superiordi masa itu. Kaum Muslimin telah banyak mengarang buku yang mencakup pembaharuan dari inovasi, serta meletakkan kaidah-kaidah ilmu tersebut.
2.      Kaum Kristiani meniru ilmu industri dan keterampilan dari Muslimin, seperti industri tekstil, pewarnaan, pelabuhan, tambang dan kaca. Mereka juga menyalin seni bangunan sehingga berpengaruh besar dalam kehidupan Eropa. GustaveLeBon berkata:
“pengaruh perang salib di bidang industri dan seni, tidaklah sedikit. Eropa belajar industri tenun sutera dan pewarnaan, lalu seni bangunan berpindah ke Eropa dengan sempurna”.
3.      Peradaban Barat terpengaruh oleh peradaban Islam yang membuat ia tumbuh dan mencapai kegemilangan. Kalaulah bukan karena perang salib, mungkin peradaban Barat akan tumbuh lambat. Para orientalis yang adil menyadari kebenaran ini, sebelum sejarawan Islam mengatakannya.[36]


F.     Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran penulis, ada beberapa literatur yang sudah pernah membahas dan mengkaji tentang bagaimana penerapan manajemen dakwah seorang tokoh, tetapi dalam penelitian ini penulis ingin melihat atau menganalisis tentang penerapan manajemen dakwah Shalahuddin Al-Ayyubi. Literatur-literatur tersebut memiliki perbedaan dengan penelitian  yang dilakukan penulis, berikut penelitian yang dilakukan oleh:
1.      Siti Aisyah pada tahun 2015 dalam skripsinya “Prinsip-Prinsip Manajemen Dakwah Menurut Mohammad Natsir”. Penulisan skripsi ini menjelaskan bahwa prinsip-prinsip manajemen dakwah yang dilaksanakan Mohammad Natsir dalam kegiatan dakwahnya yaitu prinsip ketauhidan, prinsip keadilan, prinsip konsolidasi, prinsip koordinasi, prinsip tajdid, prinsip ijtihad, prinsip pendanaan dan kaderisasi, prinsip penghargaan, prinsip komunikasi, prinsip tabsyir dan taisir, prinsip integral dan komprehensif, prinsip penelitian dan pengembangan serta prinsip sabar dan istiqamah. Dan beberapa prinsip-prinsip manajemen dakwah telah dikemukakan di atas, adapun yang paling berperan dalam pelaksanaan kegiatan manajerial adalah  prinsip konsolidasi, prinsip koordinasi, prinsip pendanaan dan kaderisasi, prinsip penghargaan, serta prinsip komunikasi.
2.      Siti Aisyah pada tahun 2011 dalam skripsinya “Manajemen Dakwah Pada Masa Pemerintahan Ali Bin Abi Thalib”. Penulisan ini menjelaskan tentang penerapan fungsi-fungsi manajemen dakwah yang dilakukan pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib, diantaranya yaitu perencanaan dakwah yang dilakukan Ali bin Abi Thalib yang dilihat dari empat aspek yaitu ada upaya yang jelas tentang perumusan sasaran dan tujuan dakwah, penetapan strategi dakwah yang sesuai dengan kondisi yang serba konflik saat itu, penyusunan rencana-rencana, integrasi dan koordinasi kegiatan dakwah, dan pengoptimalan dan pemanfaatan sarana-sarana dakwah. Pengorganisasian dakwahnya yaitu menempatkan pelaksana untuk melakukan tugas dakwah dan memberi wewenang kepada masing-masing pelaksana. Pelaksanaannya yaitu menjalin komunikasi secara intensif dengan semua pihak dan pemberian motivasi serta musyawarah terbuka. Dan pengawasannya dilakukan secara vertikal atasan-bawahan dan horizontal sesama bawahan.
3.      Moh. Mansur Syariffudin pada tahun 2014 dalam tesisnya yang berjudul “Strategi Dakwah Shalahuddin Al-Ayyubi Dalam Film Kingdom Of Heaven”. Penelitian ini menjelaskan bahwa strategi dakwah yang dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi, terbagi menjadi tiga situasi, yaitu sebelum perang, saat perang dan sesudah perang. Strategi dakwah sebelum perang, ada  dua strategi dakwah Shalahuddin al-Ayyubi, yaitu membangun strategi perang yang baik dan membuat aturan perang. Dalam membangun strategi perang, Shalahuddin dengan mengerahkan tentaranya pergi menuju Kerak guna meminta pertanggungjawaban Rainald de Chatillon yang telah membantai umat Islam yang sedang melaksanakan perjalanan ibadah haji. Kemudian strategi dakwah Shalahuddin al-Ayyubi pada saat berperang adalah membuat kejutan perang dan menawarkan perjanjian damai. Kejutan perang yang dilakukan Shalahuddin yaitu dengan melakukan penyerangan menggunakan bola api yang menyebabkan strategi musuh berantakan serta persediaan air musuh berkurang. Strategi dakwah setelah berperang yaitu perlakuan santun terhadap tawanan perang. Adapun penerapanya yaitu dengan tidak membunuh tawanan perang serta memperlakukannya dengan baik.




[1] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 1.
[2] Ibid, hlm. 2.
[3] Abdullah, Dakwah Kultural dan Dakwah Struktural, (Bandung: Citapustaka, 2012), hlm.7.
[4] Ibid., hlm. 9.
[5] Abd. Rosyad Saleh, Manejemen Da’wah Islam , (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm.34.
[6] Wahidin Sahputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2012), hlm. 287.
[7] Ibid., hlm. 289.
[8] Ibid, hlm. 291.
[9] Ibid, hlm. 298.
[10] Ibid, hlm. 299.
[11] Ibid, hlm.309.
[12] Ibid, hlm. 309-310.         
[13] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hlm. 345.    
[14] Ibid., hlm. 374.
[15] Ibid.
[16] Ibid., hlm. 375.
[17] Karen Amstrong, Perang Suci, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007), hlm. 27.
[18] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 28.
[19] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 123.
[20] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 123.
[21] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 124.
[22] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 124.
[23] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 125.
[24] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 278.
[25] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 279.
[26] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 282.
[27] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 282.
[28] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 285.
[29] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 289.
[30] Ibid., hlm. 705.
[31]Ibid., hlm.706.
[32] Ibid., hlm.706-707.
[33] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 380.
[34] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 380.
[35] Karen Amstrong, Perang Suci, hlm. 38
[36] Ibid., hlm. 723.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar