BAB II
Kajian TeoritiK
A. Pengertian
Manajemen Dakwah
Jika dilihat dari segi bahasa, pengertian manajemen
dakwah memiliki dua istilah, yang pertama manajemen dan yang kedua, dakwah.
Manajemen secara etimologis berasal dari to manage yang artinya
mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan
dari fungsi-fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses
untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.[1]
Sedangkan secara epitomologis menurut George R. Terry
manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan
serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber
daya manusia dan sumber-sumber lainnya. [2]
Sedangkan dakwah secara etimologi, kata dakwah berasal
dari bahasa Arab, yaitu: da’a-yad’uw-da’watan. Kata tersebut berarti menyeru, memanggil, mengajak dan menjemput. Selain
itu, dakwah juga bermakna memotivasi dan membimbing.[3]
Pengertian dakwah secara istilah menurut Ibn Taymiyah
adalah mengajak untuk beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa oleh para
Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa yang mereka sampaikan dan mengikuti apa
yang mereka perintahkan. Sedangkan menurut
Syekh Ali Mahfudz adalah mendorong (memotivasi) manusia untuk melakukan
kebajikan, mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah dari
perbuatan munkar, agar mereka memperoleh
kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.[4]
Rosyad Saleh mengartikan manajemen dakwah sebagai
suatu proses perencanaan tugas, mengelompokkan tugas, menghimpun dan
menempatkan tenaga-tenaga pelaksana dalam kelompok-kelompok tugas dan kemudian
menggerakkan ke arah pencapaian tujuan dakwah. Inilah yang merupakan inti dari
manajemen dakwah, yaitu sebuah pengaturan secara sistematis dan koordinatif
dalam kegiatan atau aktivitas dakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan
sampai akhir dari kegiatan dakwah.[5]
Jika aktivitas dakwah dilaksanakan sesuai dengan
prinsip-prinsip manajemen, maka “citra profesional” dalam dakwah akan terwujud pada kehidupan
masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak dipandang dalam objek ubudiyah saja,
akan tetapi diinterpretasikan dalam berbagai profesi. Inilah yang dijadikan
inti dari pengaturan secara manajerial organisasi dakwah, sedangkan efektivitas
dan efesiensi dalam penyelenggaraan dakwah adalah suatu hal yang harus mendapatkan prioritas.
Aktivitas dakwah dikatakan berjalan secara efektif
jika apa yang menjadi tujuan benar-benar dapat dicapai, dan dalam pencapaiannya
dikeluarkan pengorbanan-pengorbanan yang wajar. Atau lebih tepatnya, jika
kegiatan lembaga dakwah yang dilaksanakan menurut prinsip-prinsip manajemen akan menjamin tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan dan akan menumbuhkan
sebuah citra (image) profesionalisme di kalangan masyarakat. Khusus dari
pengguna jasa dari profesi da’i. [6]
B. Fungsi-Fungsi Manajemen Dakwah
1. Aspek
Perencanaan Dakwah
Perencanaan dakwah (takhtith) merupakan pangkal tolak
dari suatu aktivitas manajerial, oleh karena itu perencanaan memiliki peran
yang sangat urgen dalam suatu organisasi, sebab ia merupakan dasar dan titik
tolak dari aktivitas selanjutnya. Oleh sebab itu, agar proses dakwah dapat
memperoleh hasil yang maksimal, maka perencanaan itu merupakan sebuah
keharusan. Setipa sesuatu itu membutuhkan rencana, sebagaimana ditegaskan
Rasulullah SAW dalam sabdanya[7]:
“jika anda
ingin mngerjakan suatu pekerjaan, maka pikirkanlah akibatnya, maka jika
pekerjaan tersebut baik ambillah, dan jika pekerjaan itu buruk, maka
tinggalkanlah” (HR Ibnu Al-Mubarak).
2. Aspek
Pengorganisasian Dakwah
Pengorganisasian
dakwah atau al-tanzim dalam pandangan Islam bukan semata-mata merupakan wadah,
akan tetapi lebih menekankan bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara rapi,
tertatur dan sistematis, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Allah
sangat menyukai jika seseorang melakukan perbuatan terutama dilakukan dengan itqam
(kesungguhan dan keseriusan)” (HR Thabrani).[8]
Hadis Nabi
Muhammad SAW dapat dijadikan sandaran dalam sebuah pengorganisasian, yaitu:
“dua orang itu lebih baik daripada satu,
tiga orang lebih baik dari dua orang dan empat orang itu lebih baik dari dua
orang, maka berjamaahlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan
umat kami kepadanya ada petunjuk” (HR Bukhari).
Tujuan dari
pengorganisasian dakwah adalah:
a. Membagi kegiatan-kegiatan dakwah menjadi
departemen-departemen atau divisi-divisi dan tugas-tugas yang terperinci dan
spesifik
b. Membagi kegiatan dakwah serta tanggung jawab
yang berkaitan dengan masing-masing jabatan atau tugas dakwah
c. Mengoordinasikan berbagai tugas organisasi
dakwah
d. Mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan dakwah
ke dalam unit-unit
e. Membangun hubungan di kalangan da’i, baik
secara individual, kelompok dan departemen
f. Menetapkan garis-garis wewenang formal
g. Mengalokasikan dan memberikan sumber daya
organisasi dakwah
h. Dapat menyalurkan kegiatan-kegiatan dakwah
secara logis dan sistematis.[9]
3. Aspek
Penggerakan Dakwah
Aspek penggerakkan dalam dakwah merupakan hal yang harus
diperhatikan oleh pelaku dakwah dalam menyampaikan dan merealisasikan
kegiatan-kegiatan dakwah yang telah direncanakan.[10]
4. Aspek
Pengendalian Dakwah dan Evaluasi Dakwah
Penggunaan
prosedur pengendalian dapat dimaksudkan sebagai sebuah kegiatan mengukur
penyimpangan dari prestasi yang direncanakan da menggerakkan tindakan korektif.
Pada era sekarang ini pengendalian operasional dakwah dilakukan terintegrasi
dari suatu organisasi dakwah sudah menjadi suatu kebutuhan, dan dalam
pengendalian ini selalu disertakan unsur perbaikan yang berlangsung secara
berkesinambungan.[11]
Setelah
dilakukan pengendalian semua aktivitas
dakwah, maka aspek penting lainnya
yang perlu dilakukan adalah evaluasi. Evaluasi dakwah adalah melakukan
penilaian terhadap kegiatan dakwah yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan
pemahaman manajerial dakwah dalam sebuah program formal yang mendorong manajer
atau pemimpin lembaga dakwah untuk mengamati perilaku anggotanya, melalui
pengamatan yang lebih mendalam. Evaluasi dakwah juga penting untuk mengetahui
berhasil dan tidaknya kegiatan dakwah yang telah dilaksanakan, sehingga terukur
tingkat keberhasilan atau kegagalan dakwah tersebut, yang pada tahap selanjutnya akan memudahkan memperbaiki kekurangan-kekurangan
yang ada. [12]
C.
Gerakan
Dakwah Islam Pada Masa Pemerintahan Shalahuddin Al-Ayubi
1. Pembangunan Madrasah-Madrasah Sunni
Shalahuddin Al-Ayyubi berambisi agar akidah
Ahlus Sunnah mempunyai pengaruh pada berbagai lembaga pemikiran dan pendidikan
yang dibangunnya. Oleh karena itu, pada tahun 572 H (1176 M) ia memerintahkan
pembangunan dua madrasah: pertama, madrasah untuk pengikut madzhab Syafi’i;
kedua, madrasah untuk para penganut madzhab Hanafi. Sesudah itu berturut-turut dibangun pula
berbagai madrasah Sunni di beberapa tempat di Kairo, serta wilayah-wilayah lain
yang diprakarsai oleh para pejabat Ayyubiyyun dan para pembantu mereka.[13]
2. Memerangi Gerakan Syiah di Mesir, Syam, dan Yaman
Butuh waktu yang bertahun-tahun untuk
membasmi suatu aliran yang telah eksis di suatu negeri, tetapi juga harus
membutuhkan tindakan nyata yang tidak hanya bersifat keras atau repressif saja.
Karena itulah, Shalahuddin menggunakan beragam cara dan metode untuk mengakhiri
propaganda Ubaidiyah di Mesir. Sebagian menggunakan kekerasan, dan sebagian
menggunakan kekuatan militer, namun dalam waktu bersamaan juga ditempuh jalur
dakwah, pendidikan, pembinaan dan menarik simpati masyarakat melalui
yayasan-yayasan sosial dan berbagai kegiatan keagamaan dengan memanfaatkan
harta wakaf untuk pendanaannya.[14]
Qadhi
Al-Fadhil mempunyai peranan menonjol dalam perencanaan strategis ini. Yaitu
melengserkan Dinasti Ubaidiyah, yang diantara faktor-faktor terpentingnya
ialah: menjatuhkan citra Khalifah Al-Fathimi Al-Adhid; menurunkannya dari
kedudukan dan singgasana Istana Dinasti Ubaidiyah; menghentikan pelaksanaan
Shalat Jum’at di Masjid Jami’ Al-Azhar; penghapusan pelajaran seputar akidah
Syiah Rafidhah; penghancuran dan pembakaran buku-buku Syiah Ismailiyah;
peniadaan berbagai perayaan sekte sesat Syiah; penghapusan simbol-simbol
Dinasti Ubaidiyah dan mata uang mereka; pengawasan terhadap individu-individu
anggota keluarga Dinasti Fathimi; pelemahan kekuasaan ibukota Dinasti
Ubaidiyah; membongkar kepalsuan nasab Dinasti Ubaidiyah yang disandarkan kepada
Ahlul Bait Nabi; dan pengejaran terus-menerus terhadap sisa-sisa pengikut Syiah
di Syam dan Yaman.[15]
Dinasti
Ayyubiyah berupaya sekuat tenaga meredam setiap upaya keluarga Dinasti
Ubaidiyah untuk mengembalikan Mesir ke madzhab Syiah Ismailiyah. Orang-orang
Ayyubiyun terus membela akidah Sunni dan memusnahkan warisan Syiah Rafidhah,
mereka terus mengejar pengikut sekte ini hingga ke Syam dan Yaman. Pada
akhirnya mereka pun mampu menghentikan gerakan Syaih Ismailiyah di Mesir, Syam,
dan Yaman; lalu menyebarkan dakwah Sunni di Iran dan Syam. [16]
D.
Perang Salib
Dan Peran Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada
tanggal 25 November 1095, di Konsili Clermont, Paus Urban II menyerukan perang
salib pertama. Berkhotbah di hadapan kerumunan para pendeta, ksatria, dan
orang-orang miskin, Paus Urban menyerukan perang suci melawan Islam. Para ksatria Kristen Eropa pun menyerbu Asia
Kecil dan membersihkan negeri-negeri itu darinajis-najis kaum muslim, mereka
akan memikul tugas yang lebih suci lagi. Mereka akan berbaris menuju Yerussalem
dan membebaskan kota suci itu dari tangan para kafir. Sungguh memalukan bahwa
makam Kristus berada di genggaman kaum muslim.
Sambutan terhadap seruan Paus Urban itu sungguh luar biasa. Para
pengkhotbah populer seperti Peter si Petapa menyebarkan kabar tentang Perang
Salib. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri atas
60.000 tentara. Gelombang pertama itu disusul pada musim gugur oleh lima
pasukan lagi yang terdiri dari kira-kira 100.000 laki-laki dan segerombolan
pendeta dan penziarah.[17]
Bagi orang-orang Byzantium yang berpengetahuan luas, gelombang
manusia tampak sama dengan invasi besar-besaran kaum barbar, serupa dengan
serbuan yang telah menghancurkan Kekasaisaran Romawi di Eropa. Barat mulai
menginvasi Timur pada abad modern. Invasi ini dipenuhi oleh
perasaan-benar-sendiri yang agresif dari sebuah perang suci, sebuah perasaan
yang akan menjadi ciri Barat di masa sesudahnya dalam berurusan dengan Timur.
Perang Salib ini merupakan tindakan kerja sama pertama dari Eropa Barat saat
Benua itu sedang merangkak keluar dari Abad Kegelapan. Mereka
menjahitkan tanda salib di baju mereka dan berbaris ke tanah tempat
Yesus wafat untuk menyelamatkan dunia.[18]
Pada tahun 1096, Paus Urban II menasehati para Ksatria untuk
menunggu usai panen tahun 1096, sehingga para tentara dapat membawa perbekalam
secara layak. Tapi, ribuan Tentara Salib terlalu tidak sabar. Para pengkhotbah
populer menyebarkan kabar tentang Perang Salib, membawa berbagai motivasi di
luar cita-cita gerakan Reformasi Cluny dan bersifat populer ke permukaan.
Ribuan orang awam lelaki maupun perempuan , bersukarela ikut serta dalam
barisan tentara. Peter Sang Pertapa berkelana ke seluruh Perancis, memikat para
pengikut dari semua kelas masyarakat. Dimana pun ia berkhotbah, para
pendengarnya akan terpesona dan menangis. [19]
Di Jerman, dua pendeta, Folkmar dan Gottschalk, juga membangkitkan
antusiasme serupa. Di Jerman pula, Pengeran Emich dari Leiningen, seorang baron
perampok dengan reputasi amat kejam, mengaku bahwa ia adalah Kaisar Terakhir
dari mitos apokaliptik, dan mulai mengumpukan tentara yang akan bergabung
dengan Tentara Salib lain dari Inggris dan Flanders.[20]
Pada bulan Maret, Peter Sang Pertapa bergerak ke Timur memimpin
rombongan yang terdiri dari kira-kira 10.000 bangsawan, ksatria, dan prajurit
pejalan kaki, yang diiringi sejumlah besar peziarah. Pada waktu yang sama,
Walter Sansavior dari Poissy, seorang bangsawan Perancis, memimpin pasukan yang
kira-kira sama besarnya, yang seluruhnya terdiri dari tentara pejalan kaki. Tak
lama kemudian, Emich berangkat dengan tentaranya yang amat besar, berjumlah
20.000 orang. Dua tentara lain yang dipimpin oleh Folkmar dan Gottschalk
memulai perjalanan mereka ke Eropa Timur menuju Konstantinopel. Lima rombongan tentara lagi bersiap-siap di
rumah. Pasukan Walter Sansavior yang dengan mengagumkan amat berdisiplin
berbaris langsung melalui Eropa Timur dan tiba di Konstantinopel pada akhir
bulan Juli. Pertempuran pun tak terhindarkan.[21]
Pada akhir bulan Juni, tentara Folkmar dihancurkan di Nitra,
Hungaria, oleh tentara Hungaria yang marah. Tak lama kemudian tentara
Gottschalk juga dipaksa menyerah kepada tentara Hungaria di Pannonhalma. Orang
Hungaria begitu marah oleh Tentara Salib sehingga tidak mengizinkan tentara
Emich memasuki negara mereka. Tentara Salib Emich mencoba memaksa masuk dan
mereka mengepung kota Weisenburg selama enam pekan. Tetapi mereka tidak dapat
maju lebih jauh dan akhirnya terpaksa membubarkan diri dan pulang dalam
kehinaan.[22]
Tentara Peter Sang Pertapa lebih berhasil tetapi menderita korban
amat besar dalam perjalanan,. Di Nish, Byzantium, pertempuran pecah di pasar,
ketika Tentara Salib mencoba untuk membeli makanan. Pasukan Peter diserang
hebat di pasar tersebut, tetapi para prajurit yang tersisa berhasil mencapai
Konstantinopel pada awal bulan Agustus.sesudah itu, di bulan Agustus juga,
nyaris semua pasukan Peter dan Walter dibantai oleh tentara Turki.[23]
Para Tentara Salib memang memasuki kota malam itu, berteriak keras
“Tuhan
menghendaki
ini”.
Mereka mengusir orang-orang Turki dari pertahanan mereka dan menjarah serta
merebut kota itu. Para Tentara Salib yang kelaparan bahkan menyerbu rumah-rumah
orang Kristen seperti mereka menyerbu rumah-rumah kaum muslim. Jalanan dipenuhi
oleh mayat-mayat. Meski banyak rintangan, kamu Salib berhasil membebaskan
kota-Kristen yang dihormati tersebut. [24]
Tapi kemenangan mereka tidak berlangsung lama. Pada tanggal 4 Juni,
tentara-Kerbuqa yang berperalatan amat lengkap tiba di luar benteng kota dan
mulai mengepung Antiokhia. Pada tanggal 10 Juni, para Tentara Salib mulai
banyak yang membelot dan melarikan diri dari kota, sehingga para penjaga harus
mengawasi gerbang kota untuk menghentikan kepergian mereka.[25]
Peter dan dua belas Tentara
Salib dari tentara Raymund mulai menggali untuk menemukan tombak suci itu di
tempat yang telah ditunjuk St. Andrew. Mereka menggali sepanjang hari. Dan
tiba-tiba, Peter melompat ke dalam galian lubang dan dengan penuh rasa
kemenangan membawa sepotong besi yang dianggap dulunya pernah menjadi sebilah
tombak. Gerombolan yang ketakutan pada empat malam sebelumnya berubah menjadi
tentara-Kristen yang siap menyerang musuh dan yakin akan kemenangan mereka. [26]
Pada tanggal 28 Juni, Tentara Salib keluar dari kota dan didampingi
oleh tombak dan sekelompok pendeta yang berdoa dengan keras. Mereka menyerbu
kaum muslim dengan rasa percaya diri yang begitu besar. Ketika Tentara
Salibbenar-benar melihat tentara kaum muslim tercerai-berai dan kabur di
hadapan mereka, mereka tenggelam dalam keadaan suka-cita yang meluap sehingga
mereka tidak terkejut lagi.[27]
Penyakit tipus merebak dan pada tanggal 1 Agustus,
Adhemar pun
meninggal. Kematiannya menjelma kehilangan besar dan membuat seluruh tentara
tertekan. Namun, pada akhir bulan November, Tentara Salib mengepung Ma’arret di
Suriah dan pada tanggal 12 Desember kota itu berhasil ditaklukkan.[28]
Kematian Peter mengakhiri riwayat tombak suci penemuan peter itu,
namun sisa-sisa para Tentara Salib masih percaya terus memuja tombak tersebut.
Pada tanggal 13 Mei, pengepungan kota Arqa dihentikan dan Tentara Salib memulai
perjalanan mereka mennuju Yerussalem. Pada tanggal 23 Mei, mereka melintasi
Tirus, tempat yang pernah dikunjungi Yesus. Tentara Salib itu sungguh-sungguh
merasa bahwa mereka berdiri di atas tanah suci.
Pada tanggal 7
Juni 1099, Tentara Salib tiba di benteng kota Yerussalem. Pada tanggal 15 Juli
1099, Tentara Salib mendesak masuk ke kota dan menaklukkannya. Selama dua hari
mereka menyerang para penduduk Muslim dan Yahudi di Yerussalem. Sehari setelah
pembantaian itu, Tentara Salib memanjat atap al-Aqsha dan dengan darah dingin
membunuh sekelompok Muslim yang sebelumnya telah dijanjikan Tancred akan
mendapat perlindungan.[29]
Setelah kaum Salib menguasai Haifa, mereka
bergerak menuju Qaisariyah. Pada 17 sya’ban, kaum salib mendekati kota, dua
pasukan telah bertemu dan terjadi pertempuran disana. Pertempuran sengit
berkobar setiap harinya. Shalahuddin ingin menarik kaum salib ke daratan, agar
mereka kehilangan suplai logistik dari laut. Namun, Richard tidak terjebak
dengan strategi itu.
Setelah sampai di Qaisariyah, ternyata kota
itu sudah rata dengan tanah. Pasukan Richard melanjutkan ke Arsuf, lalu
bergerak menuju hutan. Shalahuddin memutuskan untuk mendahului musuh masuk ke
hutan dan bertempur disana, lalu ia mempersiapkan pasukannya untuk menghalang
musuh. Richard memahami strategi Shalahuddin, lalu dia berusaha meminta bantuan
pasukan dari Akka dan membuka pintu perundingan dengan Shalahuddin. Shalahuddin
mengutus Malik Al-‘Adhil untuk bertemu dengan Richard pada 12 Sya’ban. Tapi
perundingan menjadi sulit karena Richard bersikeras menuntut kaum Muslimin menyerahkan
beberapa wilayah kerajaan Baitul Maqdis ke tangan dia. Malik Al-‘Adhil segera
menghentikan perundingan. Tidak ada jalan bagi kedua belah pihak, selain
peperangan.[30]
Peperangan Arsuf ini dimulai saat dhuha,
pada hari Sabtu 14 Sya’ban 587 H (7 September 1191 M). Para ksatria Islam
awalnya berhasil mendesak pasukan salibis, tetapi Richard bertahan dan mampu
menyusun kekuatan kembali. Lama-lama pasukan Muslimin semakin terdesak. Saat
situasi genting itu, Shalahuddin berteriak keras kepada para pejuang Islam agar
mereka bertekad berjihad sampai mati di jalan Allah. Sultan tetap bertahan di
medan perang dengan gagah berani; hal ini memotivasi semangat para pejuang
kstaria Islam tersebut. Mereka pun berperang mati-matian, hingga berhasil
memukul mundur pasukan salib dan mereka terpaksa surut ke belakang.[31]
Setelah perang Arsuf, Richard bergerak ke
Yafa dan menguasainya, karena disana tidak ada seorang pejuang Islam pun yang
mempertahankannya. Disana Richard kembali membangun benteng-benteng. Shalahuddin
sendiri bergerak ke Ramalah. Disana ia mengadakan musyawarah militer. Amir
Ilmuddin Sulaiman bin Jandar mengusulkan, agar Sultan mengosongkan Kota Asqalan
lalu menghancurkannya. Shalahuddin menolak, tetapi karena Para pejabat
menyetujui, maka dengan sangat terpaksa memenuhi keputusan para pejabatnya. Ia
setuju meruntuhkan kota. Kota pun mulai dirobohkan pada pagi 19 Sya’ban 587 H.[32]
Sifat welas
asih Saladin menjadi sesuatu yang lekat dengannya, bahkan kepada musuhnya,
yakni kaum Frank. Saladin selalu terharu dengan dan menangis jika melihat
penderitaan orang lain. Dalam sebuah kesempatan, ia menangis tersedu-sedu
ketika seorang perempuan dari kaum Frank datang kepadanya dalam keadaan
tertekan berat karena putrinya telah diculik oleh prajurit Muslim dalam sebuah
penyerbuan. Perempuan itu berkata bahwa ia mendengar kebaikan yang termasyhur dari Raja
Kaum Muslim dan Saladin dengan segera menitahkan untuk mencari anak si
perempuan itu, yang kemudian segera dikembalikan pada ibunya.[33]
Tapi
pengabdiannya kepada perang suci yang menjadi langkah pembelaan diri melawan
kaum Frank itulah yang meyakini rakyat lebiih dari apapun bahwa Saladin memang
penerus yang paling layak dari Nuruddin yang Agung. Saladin membuat propaganda
yang sukses, yang menampilkan jihad sebagai hal yang bermakna penting bagi
integritas seorang muslim, dengan seluruh semangat dari Nuruddin. Ia
melancarkan kampanye pendidikan di dalam pasukannya: untuk pertama kalinya
dalam sejarah Islam, hadis dibacakan kepada para pasukan ketika mereka sedang bersiap
untuk bertempur, dan lebih banyak lagi pembacaan serta diskusi ayat-ayat suci
dilaksanakan saat pasukan sedang menunggangi sadel dan maju bergerak ke arah
musuh.[34]
Kota
Damaskus membuka gerbangnya secara sukarela setelah kematian Nuruddin, dan Saladin
melanjutkannya dengan menaklukkan kota-kota Homs dan Hama di Suriah. Perjuangan
panjang masih harus ia hadapi melawan Aleppo dan Mosul, yang tetap setia pada
Ash-Shalih. Ketika Ash-Shalih wafat pada tahun 1181, Saladin memasuki Aleppo
dengan penuh kemenangan sebagai pemimpinnya.[35]
E.
Kontak
Peradaban Islam Dan Kristen Pada Masa Perang Salib
Terjadi pembauran antara Umat Islam dengan
Umat Kristiani ketika perang salib berlangsung, diantaranya yaitu:
1.
Kaum Kristiani menyalin banyak ilmu
pengetahuan dari kaum Muslimin yang memiliki peradaban superiordi masa itu. Kaum
Muslimin telah banyak mengarang buku yang mencakup pembaharuan dari inovasi,
serta meletakkan kaidah-kaidah ilmu tersebut.
2.
Kaum Kristiani meniru ilmu industri dan
keterampilan dari Muslimin, seperti industri tekstil, pewarnaan, pelabuhan,
tambang dan kaca. Mereka juga menyalin seni bangunan sehingga berpengaruh besar
dalam kehidupan Eropa. GustaveLeBon berkata:
“pengaruh perang salib di bidang industri dan seni,
tidaklah sedikit. Eropa belajar industri tenun sutera dan pewarnaan, lalu seni
bangunan berpindah ke Eropa dengan sempurna”.
3. Peradaban Barat terpengaruh oleh peradaban Islam yang
membuat ia tumbuh dan mencapai kegemilangan. Kalaulah bukan karena perang
salib, mungkin peradaban Barat akan tumbuh lambat. Para orientalis yang adil
menyadari kebenaran ini, sebelum sejarawan Islam mengatakannya.[36]
F. Penelitian
Terdahulu
Berdasarkan penelusuran penulis, ada
beberapa literatur yang sudah pernah membahas dan
mengkaji tentang bagaimana penerapan manajemen dakwah seorang tokoh, tetapi dalam penelitian
ini penulis ingin melihat atau menganalisis
tentang penerapan manajemen dakwah Shalahuddin Al-Ayyubi. Literatur-literatur tersebut memiliki
perbedaan dengan penelitian yang
dilakukan penulis, berikut penelitian yang dilakukan oleh:
1.
Siti Aisyah pada tahun 2015 dalam skripsinya
“Prinsip-Prinsip Manajemen Dakwah Menurut Mohammad Natsir”. Penulisan skripsi
ini menjelaskan bahwa prinsip-prinsip manajemen dakwah yang dilaksanakan
Mohammad Natsir dalam kegiatan dakwahnya yaitu prinsip ketauhidan, prinsip
keadilan, prinsip konsolidasi, prinsip koordinasi, prinsip tajdid, prinsip
ijtihad, prinsip pendanaan dan kaderisasi, prinsip penghargaan, prinsip komunikasi,
prinsip tabsyir dan taisir, prinsip integral dan komprehensif, prinsip
penelitian dan pengembangan serta prinsip sabar dan istiqamah. Dan beberapa
prinsip-prinsip manajemen dakwah telah dikemukakan di atas, adapun yang paling
berperan dalam pelaksanaan kegiatan manajerial adalah prinsip konsolidasi, prinsip koordinasi,
prinsip pendanaan dan kaderisasi, prinsip penghargaan, serta prinsip
komunikasi.
2.
Siti Aisyah pada tahun 2011 dalam skripsinya
“Manajemen Dakwah Pada Masa Pemerintahan Ali Bin Abi Thalib”. Penulisan ini
menjelaskan tentang penerapan fungsi-fungsi manajemen dakwah yang dilakukan
pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib, diantaranya yaitu perencanaan dakwah
yang dilakukan Ali bin Abi Thalib yang dilihat dari empat aspek yaitu ada upaya
yang jelas tentang perumusan sasaran dan tujuan dakwah, penetapan strategi
dakwah yang sesuai dengan kondisi yang serba konflik saat itu, penyusunan
rencana-rencana, integrasi dan koordinasi kegiatan dakwah, dan pengoptimalan
dan pemanfaatan sarana-sarana dakwah. Pengorganisasian dakwahnya yaitu
menempatkan pelaksana untuk melakukan tugas dakwah dan memberi wewenang kepada
masing-masing pelaksana. Pelaksanaannya yaitu menjalin komunikasi secara
intensif dengan semua pihak dan pemberian motivasi serta musyawarah terbuka.
Dan pengawasannya dilakukan secara vertikal atasan-bawahan dan horizontal
sesama bawahan.
3. Moh. Mansur Syariffudin pada tahun 2014
dalam tesisnya yang berjudul “Strategi Dakwah Shalahuddin Al-Ayyubi Dalam Film
Kingdom Of Heaven”. Penelitian ini menjelaskan bahwa strategi dakwah yang
dilakukan Shalahuddin al-Ayyubi, terbagi menjadi tiga situasi, yaitu sebelum
perang, saat perang dan sesudah perang. Strategi dakwah sebelum perang,
ada dua strategi dakwah Shalahuddin
al-Ayyubi, yaitu membangun strategi perang yang baik dan membuat aturan perang.
Dalam membangun strategi perang, Shalahuddin dengan mengerahkan tentaranya
pergi menuju Kerak guna meminta pertanggungjawaban Rainald de Chatillon yang
telah membantai umat Islam yang sedang melaksanakan perjalanan ibadah haji.
Kemudian strategi dakwah Shalahuddin al-Ayyubi pada saat berperang adalah
membuat kejutan perang dan menawarkan perjanjian damai. Kejutan perang yang
dilakukan Shalahuddin yaitu dengan melakukan penyerangan menggunakan bola api
yang menyebabkan strategi musuh berantakan serta persediaan air musuh
berkurang. Strategi dakwah setelah berperang yaitu perlakuan santun terhadap
tawanan perang. Adapun penerapanya yaitu dengan tidak membunuh tawanan perang
serta memperlakukannya dengan baik.
[13] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2013), hlm. 345.
[16] Ibid., hlm. 375.
[18] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 28.
[19] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 123.
[20] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 123.
[21] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 124.
[22] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 124.
[23] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 125.
[24] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 278.
[25] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 279.
[26] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 282.
[27] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 282.
[28] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 285.
[29] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 289.
[30] Ibid., hlm. 705.
[32] Ibid., hlm.706-707.
[33] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 380.
[34] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 380.
[35] Karen
Amstrong, Perang Suci, hlm. 38
[36] Ibid., hlm. 723.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar