A. Mengenal Kehidupan
Shalahuddin Al-Ayyubi
a. Garis
Keturunan
Shalahuddin berasal dari sebuah keluarga suku Kurdi
yang memiliki asal-usul mulia dan sangat terhormat. Sebab tak seorang pun dari
keturunan ini pernah mengalami perbuadakan dan juga karena ayah Shalahuddin
Najmuddin Ayyub, serta pamannya Asaduddin Shirkuh, ketika datang ke Irak maupun
Syam tidak pernah berstatus sebagai rakyat biasa; tetapi keduanya selalu menduduki
posisi dan kedudukan yang tinggi, karena pengalaman mereka dalam urusan politik
dan administrasi. Keluarga ini berasal dari keturunan yang terhormat secara
nasab dan klan. Klan ini dikenal dengan sebutan Rawadiyah.[1]
Syadi, kakek tertua mereka, menduduki posisi pejabat
administratif di Benteng Tikrit yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan
Bahruz Al-Khadim (salah seorang gubernur Kesultanan Saljuk, di bawah Sultan
Muhammad bin Malik Shah). Mayoritas penduduk Kota Tikrit terdiri dari suku
bangsa Kurdi. Syadi bersama kedua putranya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin
Shirkuh bermigrasi ke Tikrit dan secara bertahap menduduki posisi jabatan
administratif, hingga ia diangkat sebagai pejabat yang menangani pengiriman
barang-barang, dan setelah wafatnya, ia digantikan oleh Najmuddin Ayyub.[2]
b. Kelahiran
Shalahuddin Al-Ayyubi
Shalahuddin Al-Ayyubi dilahirkan pada tahun 532 H/1137
M di Benteng Tikrit, sebuah kota tua yang jaraknya lebih dekat ke Baghdad
daripada ke Mosul. Keajaiban terjadi ketika kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi,
karena pada saat itu bertepatan dengan keluarnya perintah dari Mujahiduddin
Bahruz, penguasa Baghdad kepada Najmuddin Ayyub dan saudaranya Shirkuh, agar
meninggalkan Kota Tikrit. Perintah tersebut dikeluarkan menyusul pembunuhan
yang dilakukan Shirkuh –paman Shalahuddin, terhadap salah seorang komandan
benteng.[3]
Bahruz memerintahkan keduanya meninggalkan Tikrit pada
malam itu juga dengan rasa kekhawatiran. Keduanya berangkat menuju Mosul dengan
membawa semua keluarga mereka, termasuk putra Najmuddin yang baru lahir,
Shalahuddin.[4]
c. Riwayat
Pendidikan
Dua bersaudara Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh
tiba di Mosul dan mereka disambut dengan penuh hormat oleh Imaduddin Zanki
disana. Ia membalas kebaikan mereka sewaktu Imaduddin mengalami kekalahan
perang melawan Dinasti Saljuk di Tikrit yang ketika itu Najmuddin dan Asadudin
diberi wewenang oleh Bahruz mengurus wilayah Tikrit. Keduanya memberikan
bantuan sehingga Imaduddin dan bala tentaranya bebas dan selamat hingga ke Kota
Mosul. Imaduddin mengalokasikan hasil dari tanah pertanian untuk mereka, agar
mereka mau tinggal bersamanya dalam keadaan terhormat dan dimuliakan. Dalam
kelapangan dada Imaduddin, keluarga Al-Ayyubiyah pun semakin berkembang, bahkan
kini Najmuddin serta saudaranya Shirkuh masuk ke dalam jajaran para komandan
pilihannya.[5]
Namun, sesudah itu Imaduddin terbunuh, maka Nuruddin
tampil memegang kekuasaan, dan hal itu tidak lepas dari bantuan orang-orang Ayyubiyun.
Pada masa pemerintahannya, Nuruddin berhasil menggabungkan Damaskus di bawah
kekuasaannya; dan di Damaskus inilah Shalahuddin tumbuh menjadi remaja yang
gemar mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan Islam, berlatih seni berperang,
berburu, belajar memanah, dan berbagai kebutuhan pokok kepahlawanan lainnya.[6]
Nuruddin telah melihat berbagai kemampuan
militer dan administrasi yang dimiliki oleh Shalahuddin. Nuruddin pun menaruh
kepercayaan kepadanya, menjadikannya sebagai orang dekat dan memberi kedudukan
khusus kepadanya. Maka tatkala Al-Malik
Al-Adhil, Nuruddin berkuasa di Damaskus, Najmuddin mengharuskan putranya
Shalahuddin untuk mengabdi kepadanya. Dari ayahnya ia mempelajari jalan
kebaikan, perbuatan mekruf, ijtihad dalam perkara-perkara jihad, hingga ia
berangkat bersama pamannya Asaduddin Shirkuh ke negeri Mesir. Asaduddin
berkuasa di Mesir, dimana keponakannya mengerjakan berbagai urusan dengan penuh
perhatian, pemikiran yang lurus, dan kebijakan yang baik.[7]
Ketika Nuruddin Mahmud Zanki berhasil menaklukkan
Balbek pada tahun 534 H, ia mengangkat Najmuddin Ayyub sebagai gubernurnya. Semasa
masih berada di bawah kepemimpinan ayahnya di Balbek, Shalahuddin telah belajar
ilmu-ilmu keislaman dan beragam teknik peperangan, di samping menguasai
permainan bola dan kepandaian menaiki kuda, serta keahlian-keahlian khas
golongan penguasa lainnya. Shalahuddin sangat lihai dalam permainan Al-jukan,
yaitu permainan olahraga yang berasal dari Timur yang dilakukan oleh
pemainnya sambil menunggangi kuda, di samping perhatiannya yang tinggi terhadap
ilmu-ilmu agama.[8]
Dapat dikatakan bahwa Shalahuddin tumbuh menjadi besar
dan mendapat pendidikan di lingkungan keluarga dengan belajar keahlian di
bidang politik dari ayahnya; belajar keberanian dalam berbagai peperangan dari
pamannya Shirkuh; sehingga ia tumbuh dewasa dalam keadaan kenyang dengan
keahlian politik, penuh dengan semangat kombatan, sebagaimana ia juga
mempelajari berbagai bidang ilmu populer di masanya. Ia menghafal Al-Quran,
mempelajari fikih dan hadis dengan menjadi murid pada sejumlah ulama di wilayah
Syam dan Al-Jazirah. Diantara gurunya adalah Syaikh Quthubuddin An-Naisaburi .[9]
Adapun masa yang dihabiskan Shalahuddin selama di
Mesir, maka dianggap sebagia hari-hari tebesar yang telah memperlihatkan
kepahlawanan luar biasa dan pengalaman perang yang langka. Ia setia mendampingi
pamannya Shirkuh dalam tiga kali invasi militer ke Mesir. Ia memperlihatkan kecakapan luar biasa dan
kejeniusan langka di bidang peperangan dan pertempuran. Maka melalui keahlian
berorganisasi, kepintaran dan kecakapan bertindak, ia bersama pamannya Shirkuh
berhasil menyatukan Mesir di bawah kekuasaan Dinasti An-Nuriyah setelah
membebaskan bangsa Mesir dari kekuasaan Dinasti Ubaidiyah yang beraliran Syiah
Rafidhah.[10]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar