Entri Populer

Minggu, 28 Februari 2016

Mengenal Kehidupan Shalahuddin Al-Ayyubi



A.      Mengenal Kehidupan Shalahuddin Al-Ayyubi
a.    Garis Keturunan
Shalahuddin berasal dari sebuah keluarga suku Kurdi yang memiliki asal-usul mulia dan sangat terhormat. Sebab tak seorang pun dari keturunan ini pernah mengalami perbuadakan dan juga karena ayah Shalahuddin Najmuddin Ayyub, serta pamannya Asaduddin Shirkuh, ketika datang ke Irak maupun Syam tidak pernah berstatus sebagai rakyat biasa; tetapi keduanya selalu menduduki posisi dan kedudukan yang tinggi, karena pengalaman mereka dalam urusan politik dan administrasi. Keluarga ini berasal dari keturunan yang terhormat secara nasab dan klan. Klan ini dikenal dengan sebutan Rawadiyah.[1]
Syadi, kakek tertua mereka, menduduki posisi pejabat administratif di Benteng Tikrit yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Bahruz Al-Khadim (salah seorang gubernur Kesultanan Saljuk, di bawah Sultan Muhammad bin Malik Shah). Mayoritas penduduk Kota Tikrit terdiri dari suku bangsa Kurdi. Syadi bersama kedua putranya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh bermigrasi ke Tikrit dan secara bertahap menduduki posisi jabatan administratif, hingga ia diangkat sebagai pejabat yang menangani pengiriman barang-barang, dan setelah wafatnya, ia digantikan oleh Najmuddin Ayyub.[2]
b.   Kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi
Shalahuddin Al-Ayyubi dilahirkan pada tahun 532 H/1137 M di Benteng Tikrit, sebuah kota tua yang jaraknya lebih dekat ke Baghdad daripada ke Mosul. Keajaiban terjadi ketika kelahiran Shalahuddin Al-Ayyubi, karena pada saat itu bertepatan dengan keluarnya perintah dari Mujahiduddin Bahruz, penguasa Baghdad kepada Najmuddin Ayyub dan saudaranya Shirkuh, agar meninggalkan Kota Tikrit. Perintah tersebut dikeluarkan menyusul pembunuhan yang dilakukan Shirkuh –paman Shalahuddin, terhadap salah seorang komandan benteng.[3]
Bahruz memerintahkan keduanya meninggalkan Tikrit pada malam itu juga dengan rasa kekhawatiran. Keduanya berangkat menuju Mosul dengan membawa semua keluarga mereka, termasuk putra Najmuddin yang baru lahir, Shalahuddin.[4]
c.    Riwayat Pendidikan
Dua bersaudara Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Shirkuh tiba di Mosul dan mereka disambut dengan penuh hormat oleh Imaduddin Zanki disana. Ia membalas kebaikan mereka sewaktu Imaduddin mengalami kekalahan perang melawan Dinasti Saljuk di Tikrit yang ketika itu Najmuddin dan Asadudin diberi wewenang oleh Bahruz mengurus wilayah Tikrit. Keduanya memberikan bantuan sehingga Imaduddin dan bala tentaranya bebas dan selamat hingga ke Kota Mosul. Imaduddin mengalokasikan hasil dari tanah pertanian untuk mereka, agar mereka mau tinggal bersamanya dalam keadaan terhormat dan dimuliakan. Dalam kelapangan dada Imaduddin, keluarga Al-Ayyubiyah pun semakin berkembang, bahkan kini Najmuddin serta saudaranya Shirkuh masuk ke dalam jajaran para komandan pilihannya.[5]
Namun, sesudah itu Imaduddin terbunuh, maka Nuruddin tampil memegang kekuasaan, dan hal itu tidak lepas dari bantuan orang-orang Ayyubiyun. Pada masa pemerintahannya, Nuruddin berhasil menggabungkan Damaskus di bawah kekuasaannya; dan di Damaskus inilah Shalahuddin tumbuh menjadi remaja yang gemar mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan Islam, berlatih seni berperang, berburu, belajar memanah, dan berbagai kebutuhan pokok kepahlawanan lainnya.[6]
Nuruddin telah melihat berbagai kemampuan militer dan administrasi yang dimiliki oleh Shalahuddin. Nuruddin pun menaruh kepercayaan kepadanya, menjadikannya sebagai orang dekat dan memberi kedudukan khusus  kepadanya. Maka tatkala Al-Malik Al-Adhil, Nuruddin berkuasa di Damaskus, Najmuddin mengharuskan putranya Shalahuddin untuk mengabdi kepadanya. Dari ayahnya ia mempelajari jalan kebaikan, perbuatan mekruf, ijtihad dalam perkara-perkara jihad, hingga ia berangkat bersama pamannya Asaduddin Shirkuh ke negeri Mesir. Asaduddin berkuasa di Mesir, dimana keponakannya mengerjakan berbagai urusan dengan penuh perhatian, pemikiran yang lurus, dan kebijakan yang baik.[7]
Ketika Nuruddin Mahmud Zanki berhasil menaklukkan Balbek pada tahun 534 H, ia mengangkat Najmuddin Ayyub sebagai gubernurnya. Semasa masih berada di bawah kepemimpinan ayahnya di Balbek, Shalahuddin telah belajar ilmu-ilmu keislaman dan beragam teknik peperangan, di samping menguasai permainan bola dan kepandaian menaiki kuda, serta keahlian-keahlian khas golongan penguasa lainnya. Shalahuddin sangat lihai dalam permainan Al-jukan, yaitu permainan olahraga yang berasal dari Timur yang dilakukan oleh pemainnya sambil menunggangi kuda, di samping perhatiannya yang tinggi terhadap ilmu-ilmu agama.[8]
Dapat dikatakan bahwa Shalahuddin tumbuh menjadi besar dan mendapat pendidikan di lingkungan keluarga dengan belajar keahlian di bidang politik dari ayahnya; belajar keberanian dalam berbagai peperangan dari pamannya Shirkuh; sehingga ia tumbuh dewasa dalam keadaan kenyang dengan keahlian politik, penuh dengan semangat kombatan, sebagaimana ia juga mempelajari berbagai bidang ilmu populer di masanya. Ia menghafal Al-Quran, mempelajari fikih dan hadis dengan menjadi murid pada sejumlah ulama di wilayah Syam dan Al-Jazirah. Diantara gurunya adalah Syaikh Quthubuddin An-Naisaburi .[9]
Adapun masa yang dihabiskan Shalahuddin selama di Mesir, maka dianggap sebagia hari-hari tebesar yang telah memperlihatkan kepahlawanan luar biasa dan pengalaman perang yang langka. Ia setia mendampingi pamannya Shirkuh dalam tiga kali invasi militer ke Mesir.  Ia memperlihatkan kecakapan luar biasa dan kejeniusan langka di bidang peperangan dan pertempuran. Maka melalui keahlian berorganisasi, kepintaran dan kecakapan bertindak, ia bersama pamannya Shirkuh berhasil menyatukan Mesir di bawah kekuasaan Dinasti An-Nuriyah setelah membebaskan bangsa Mesir dari kekuasaan Dinasti Ubaidiyah yang beraliran Syiah Rafidhah.[10]


[1] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hlm. 292.
[2] Ibid.,  hlm. 293.
[3] Ibid., hlm. 294.
[4] Ibid., hlm. 295.
[5] Ibid.
[6] Ibid., hlm. 297.
[7] Ibid., hlm. 298.
[8] Ibid., hlm. 299.
[9] Ibid.
[10] Ibid., hlm. 301.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar